Balap motor merupakan salah satu olahraga dengan risiko cedera paling tinggi. Meski pebalap sering terlihat kembali berlomba setelah menjalani pemulihan, tidak sedikit cedera yang meninggalkan dampak jangka panjang dan baru benar-benar terasa bertahun-tahun kemudian. Hal itulah yang dialami juara dunia MotoGP dua kali, Casey Stoner. Mantan pebalap asal Australia tersebut mengungkapkan baru menjalani operasi tulang belakang pada awal 2026 untuk mengatasi cedera yang sebenarnya sudah dideritanya sejak 2003. Stoner diketahui pensiun dari MotoGP pada akhir musim 2012. Setelah gantung helm, ia beberapa kali mengungkapkan mengalami berbagai masalah kesehatan, termasuk sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue). Namun, cedera tulang belakang yang baru dioperasinya ini ternyata telah ia tanggung selama lebih dari dua dekade. Kecelakaan pada 2003 Cedera tersebut bermula ketika Stoner mengalami kecelakaan saat membalap di Kejuaraan Dunia 125cc pada 2003, musim penuh keduanya di kelas tersebut. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Stoner mengungkapkan bahwa benturan keras saat kecelakaan membuat tulang belakangnya mengalami tekanan. Meski masih bisa berkarier hingga menjadi juara dunia MotoGP, rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang. "Hari ini tepat tiga bulan sejak saya menjalani operasi fusi tulang belakang L5-S1 dan penggantian cakram L4-5," tulis stoner di akun Instagram, dikutip Sabtu (25/7/2026) "Semuanya bermula dari kecelakaan pada 2003, ketika saya menghantam tumpukan jerami dengan posisi kepala lebih dulu. Benturan itu menekan tulang belakang saya," katanya. Andrea Iannone dan Casey Stoner saat masih di MotoGP "Selama lebih dari 20 tahun saya berusaha mengatasinya sebaik mungkin, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, terutama enam bulan terakhir, rasa sakitnya menjadi tidak tertahankan. Sampai akhirnya operasi menjadi satu-satunya pilihan," katanya. Kasus yang dialami Stoner menunjukkan bahwa dampak kecelakaan di lintasan tidak selalu berhenti ketika pebalap dinyatakan pulih. Dalam beberapa kasus, cedera dapat terus menimbulkan rasa sakit selama bertahun-tahun dan baru membutuhkan tindakan medis ketika kondisinya semakin parah. Hidup Tanpa Nyeri Setelah menjalani operasi, Stoner mengaku kondisi punggungnya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, meski proses pemulihan tidak selalu berjalan mulus. "Proses pemulihannya tentu mengalami pasang surut, tetapi secara keseluruhan punggung saya belum pernah terasa sebaik ini selama yang bisa saya ingat," ujarnya. Casey Stoner dan Jorge Lorenzo yang pernah juara dunia MotoGP Stoner mengatakan baru menyadari bahwa selama ini dirinya selalu hidup dengan rasa sakit, meski menganggap kondisinya sudah normal. "Hal yang paling mengejutkan bagi saya adalah menyadari bahwa bahkan ketika saya merasa punggung saya sudah 'baik' sebelumnya, ternyata saya masih hidup dengan rasa sakit yang terus-menerus. Baru sekarang saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa nyeri punggung," ujarnya. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada tim medis yang menanganinya hingga berhasil mengembalikan kualitas hidupnya. "Saya sangat berterima kasih kepada dokter bedah saya dan seluruh tim medis yang telah merawat saya selama proses ini. Terima kasih telah mengembalikan kualitas hidup saya," ujarnya. Casey Stoner balapan dengan Valentino Rossi di The Ranch Risiko Balap Motor Cedera yang dialami Stoner menjadi gambaran bahwa balap motor bukan hanya soal risiko kecelakaan saat balapan, tetapi juga dampak yang bisa bertahan selama puluhan tahun. Meski teknologi keselamatan terus berkembang dan banyak pebalap mampu kembali berlomba setelah mengalami kecelakaan, tidak semua cedera benar-benar sembuh total. Pada beberapa kasus, cedera tulang, sendi, maupun tulang belakang dapat meninggalkan rasa nyeri kronis yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, bahkan setelah karier balap berakhir. Pengalaman Stoner menjadi pengingat bahwa di balik prestasi para pebalap MotoGP, ada konsekuensi fisik yang terkadang harus mereka tanggung seumur hidup.