— Di tengah maraknya aksesori aftermarket, pelek replika masih menjadi pilihan banyak pengendara karena tampilannya menarik dan harganya jauh lebih terjangkau. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah pelek jenis ini aman untuk penggunaan harian, serta bagaimana cara membedakan pelek replika dengan pelek original yang umumnya lebih mahal. Menurut Diwan, pemilik bengkel Eurovolution di Jakarta Timur, penggunaan pelek replika pada dasarnya aman selama produk tersebut memenuhi standar keamanan yang berlaku. “Aman karena pasti sudah lolos SNI,” katanya kepada Kompas.com, Selasa (18/11/2025). Diwan menegaskan bahwa pelek replika yang beredar secara resmi di pasaran harus melalui proses sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sertifikasi ini memastikan pelek telah melewati uji kekuatan, uji beban, hingga uji tingkat keausan, sehingga layak dipakai dalam kondisi jalan harian. Meski demikian, ia mengingatkan agar konsumen tetap berhati-hati karena tidak semua pelek replika yang dijual di pasaran berasal dari sumber yang terverifikasi. Beberapa produk impor tanpa sertifikasi bisa saja masuk melalui jalur tidak resmi dan memiliki kualitas di bawah standar. Pelek Replika Evoque “Kalau harganya terlalu murah dan tidak ada label SNI, lebih baik hindari,” ujar Diwan. Untuk membedakan pelek replika dari pelek original, salah satu indikator utama adalah detail finishing. Pelek original memiliki kualitas pengecatan dan machining yang lebih rapi, sedangkan pelek replika sering menunjukkan perbedaan pada tingkat kerapian, terutama di bagian tepi dan palang. Selain itu, marking atau kode produksi pada pelek original biasanya lengkap, mulai dari load rating, ukuran, hingga kode pabrik. Diwan juga menyarankan pembeli untuk memperhatikan bobot pelek. Pelek original cenderung memiliki bobot yang lebih konsisten dan sesuai spesifikasi pabrikan, sementara pelek replika yang kurang berkualitas bisa lebih berat atau tidak seimbang sehingga memengaruhi performa kendaraan. Di sisi lain, pelek original umumnya memiliki sertifikasi internasional seperti JWL atau VIA untuk produk-produk Jepang. Konsumen dapat memeriksa logo sertifikasi ini di bagian belakang atau sisi dalam pelek. Jika logo tersebut tidak tercetak atau hanya berupa stiker, besar kemungkinan pelek tersebut bukan OEM. Pada akhirnya, Diwan menegaskan bahwa pemilihan pelek, baik replika maupun original, harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tetap memperhatikan aspek keselamatan. “Yang penting jangan asal beli. Cek sertifikasi, cek kualitas pengerjaan, dan pastikan tempat belinya terpercaya,” tuturnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.