VIVA Otomotif: Pameran GIIAS 2023 Ramainya pameran otomotif di berbagai daerah belakangan ini sering dipandang sebagai sinyal bahwa industri kendaraan bermotor sedang naik daun. Namun Kementerian Perindustrian menyebut fenomena banjir event tidak bisa dijadikan indikator kesehatan industri otomotif nasional. Justru sebaliknya, pameran digencarkan sebagai upaya bertahan di tengah penurunan penjualan domestik yang cukup dalam. Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan bahwa industri otomotif membutuhkan dukungan kebijakan yang tepat agar tidak kehilangan daya saing dan kapasitas produksi. Menurutnya, penilaian terhadap kekuatan industri tidak boleh hanya mengacu pada pertumbuhan salah satu segmen kendaraan atau jumlah event pameran yang digelar.“Banyaknya pameran otomotif di berbagai tempat bukan ukuran industri otomotif sedang kuat. Sebaliknya, pameran adalah upaya dan perjuangan industri untuk mempertahankan demand di tengah anjloknya penjualan domestik dan melindungi pekerja dari potensi PHK,” kata Febri dalam keterangan resmi yang diterima VIVA Otomotif, Senin 1 Desember 2025. Merujuk data penjualan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pelemahan signifikan di pasar otomotif nasional. Pada periode Januari–Oktober 2025, penjualan wholesales hanya mencapai 634.844 unit, turun 10,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, penjualan retail juga menyusut 9,6 persen menjadi 660.659 unit.Penurunan paling tajam terjadi pada kendaraan entry level yaitu harga di bawah Rp200 juta, segmen low yaitu Rp 200–400 juta dan segmen komersial — tiga kategori yang justru menjadi tulang punggung produksi dalam negeri. Pelemahan pada segmen-segmen ini menekan utilisasi pabrik, menahan investasi, serta berpotensi mengarah pada pengurangan tenaga kerja apabila tidak ditangani segera. Sementara itu, pasar kendaraan listrik (EV) memang mencatat lonjakan penjualan. Namun sebagian besar penjualan tersebut berasal dari kendaraan impor. Dari total 69.146 unit EV yang terjual sepanjang 2025, sekitar 73 persen merupakan produk impor sehingga nilai tambah dan penyerapan tenaga kerjanya lebih banyak mengalir ke negara lain. Kemenperin mengingatkan bahwa indikator paling mendasar untuk menilai kesehatan industri otomotif adalah penjualan dan produksi kendaraan, bukan hanya pertumbuhan satu segmen atau maraknya gelaran pameran. “Keliru jika menyatakan industri otomotif sedang dalam kondisi kuat hanya karena mengandalkan indikator pertumbuhan kendaraan pada segmen tertentu. Untuk menggambarkan kondisi obyektif, kita harus merujuk pada data statistik, bukan jumlah event pameran,” tuturnya.Dalam kondisi ini, pemerintah menilai insentif otomotif menjadi instrumen strategis untuk memulihkan permintaan domestik sekaligus menjaga keberlanjutan industri dari hulu hingga hilir. Kebijakan tersebut juga diharapkan dapat menciptakan ruang penurunan harga kendaraan, memperbaiki sentimen pasar, dan mempertahankan daya beli kelompok menengah khususnya pembeli mobil pertama yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.Walaupun jenis dan bentuk insentif masih dalam pembahasan, usulan Kemenperin diproyeksikan menyasar kendaraan dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi dan segmen konsumen menengah ke bawah agar manfaatnya tepat sasaran.Di tengah gencarnya promosi dan pameran otomotif, pesan utama pemerintah tetap jelas yaitu menghidupkan kembali permintaan pasar jauh lebih penting daripada sekadar meramaikan event. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat waktu, industri otomotif berisiko menghadapi pelemahan berkepanjangan bukan hanya pada sisi penjualan, tetapi juga pada keberlangsungan investasi dan pekerjaan jutaan orang yang bergantung di dalamnya.