Video yang memperlihatkan seorang pengendara sepeda motor berteriak dan memukul salah satu mobil dalam iring-iringan kendaraan pejabat viral di media sosial. Video tersebut salah satunya diunggah akun Instagram @bur_tly. Dalam rekaman, pria yang mengenakan baju abu-abu dan topi hitam itu terlihat berteriak ke arah rombongan kendaraan. Pria tersebut diduga sedang mengawal ambulans yang membawa ayahnya dalam kondisi kritis. Ambulans disebut sempat tertahan ketika petugas melakukan penutupan jalan untuk mengatur iring-iringan kendaraan menuju lokasi upacara. "Bapak saya udah kritis... Bapak saya udah mau mati, kasih jalan... kasih jalan buat rakyat..." kata pria tersebut dalam video. Kapolsek Cipayung AKP Elka Rudolf membenarkan kejadian tersebut. Menurut Elka, penutupan jalan dilakukan secara situasional untuk mengamankan iring-iringan tamu negara dalam rangka Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila. "Terkait video tersebut saat peringatan Hari Kesaktian Pancasila, penutupan jalan bersifat situasional dan sesaat untuk mengamankan iring-iringan tamu negara," kata Elka, mengutip . Elka mengatakan, petugas langsung membuka akses setelah mengetahui adanya ambulans yang membawa pasien kritis. "Begitu petugas di lapangan mengetahui ada ambulans membawa pasien kritis, langsung dibuka akses prioritas dan ambulans bisa melintas serta melanjutkan perjalanan dengan aman," ujar Elka. Kepolisian juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi. Iring-iringan mobil yang membawa Presiden Prabowo Subianto dari Air Base Galeao, Rio de Janeiro, Brasil, pada Sabtu (5/7/2025). Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri KTT BRICS pada Minggu (6/7/2025) hingga Senin (7/7/2025). Rombongan Kendaraan Perlu Antisipasi Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, pengaturan rombongan kendaraan seharusnya turut memperhitungkan kondisi lalu lintas dan kemungkinan munculnya kendaraan yang memiliki prioritas lebih tinggi. "Seharusnya pihak patwal sudah mengamati kondisi lalu lintas dahulu sebelum rombongan bergerak. Jika tidak memungkinkan karena macet, padat, bagi rombongan menjadi beberapa cluster," kata Sony, kepada Kompas.com, Jumat (2/10/2026). Menurut dia, pembagian rombongan menjadi beberapa kelompok dapat menjaga jarak antarkendaraan sekaligus menciptakan ruang bagi kendaraan prioritas. "Tujuannya menjaga jarak dan tercipta ruang bagi kendaraan-kendaraan prioritas di atasnya, karena risiko terburuknya harus dipertimbangkan jika pahit-pahit ambulans lewat," ujarnya. Sony menilai rangkaian kendaraan yang terlalu panjang juga berpotensi membuat arus lalu lintas semakin padat. "Membuat rombongan dengan rangkaian di atas lima kendaraan menurut saya menciptakan kemacetan dan merugikan masyarakat sekitar," kata Sony.