— Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai merambah dunia audio mobil, termasuk dalam proses tuning atau penyetelan sistem suara. Namun, kehadiran teknologi ini rupanya belum mampu menggantikan peran manusia sepenuhnya. Dalam dunia audio, kepekaan telinga dan intuisi seorang tuner masih dianggap tak tergantikan oleh algoritma mesin. Menurut Wahyu Tanuwidjaja, Chief Executive Officer PT Audioworkshop sekaligus distributor Alpine Indonesia, kemampuan manusia dalam mendengarkan dan menyesuaikan karakter suara masih menjadi kunci utama dalam menciptakan kualitas audio terbaik di dalam mobil. “AI memang bisa membaca frekuensi dan menyesuaikan grafik suara secara cepat, tapi belum bisa memahami preferensi dan rasa. Audio itu bukan cuma soal data, tapi juga soal perasaan dan pengalaman,” ujarnya di Tangerang, Selasa (4/11/2025). Wahyu menjelaskan, tuner berpengalaman mampu menangkap nuansa kecil dalam suara yang tidak bisa diterjemahkan oleh sistem digital. Cartens Audio, sebagai spesialis audio mobil EV dan Hybrid yang telah tersertifikasi ISO 9001 menyediakan audio untuk Denza D9 Misalnya, keseimbangan antara nada vokal dan instrumen yang terasa alami di telinga, bukan hanya diukur dari angka pada spectrum analyzer. “AI bisa memberi hasil ‘benar’ secara teknis, tapi belum tentu enak didengar. Banyak sistem tuning berbasis AI yang secara teori flat, tapi terasa kering dan tidak punya karakter,” kata Wahyu. Dalam kompetisi Asia Car Audio Network (CAN) Finals 2025, beberapa peserta memang mencoba menggunakan sistem preset berbasis AI untuk mengatur suara. Namun, hasilnya masih kalah dari tuner-tuner berpengalaman yang melakukan penyetelan manual. “Yang menang tetap tuner yang pakai telinga, bukan algoritma,” katanya. Meski begitu, Wahyu tidak menolak peran AI secara sepenuhnya. Menurutnya, teknologi tersebut bisa menjadi alat bantu untuk mempercepat proses dasar penyetelan, sebelum kemudian disempurnakan oleh sentuhan manusia. “AI bisa bantu di tahap awal, misalnya untuk equalizing kasar. Tapi untuk fine-tuning, tetap harus manusia. Itulah kenapa ke depan, yang penting bukan menggantikan manusia dengan AI, tapi menggabungkan keduanya,” ucapnya. Ia menilai, masa depan audio mobil justru akan semakin menarik dengan kolaborasi antara kemampuan teknis AI dan kepekaan manusia. “Kalau manusia dan mesin bisa saling melengkapi, hasilnya bisa jadi sempurna—presisi seperti algoritma, tapi tetap hangat seperti musik yang punya jiwa,” kata Wahyu. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.