Rumah berbentuk menyerupai bus Agra Mas double decker mendadak viral di media sosial dan menarik perhatian warganet. Rumah menyerupai bus tingkat tersebut berada di kawasan perkampungan Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Ide tersebut lahir dari pengalaman pribadi pemiliknya, Supardi (43), yang kerap menggunakan bus PO Agra Mas, hingga akhirnya terinspirasi menghadirkan rumah dengan konsep berbeda dari kebanyakan. “Sejak awal saya memang pelanggan Agra Mas. Pulang-pergi ke Jakarta selalu pakai armada Agra Mas, dari dulu sampai sekarang. Dari situ saya terinspirasi untuk membuat rumah berbentuk bus, karena saya ingin tampil beda dari yang lain,” ucapnya saat ditemui Kompas.com, Senin (27/4/2026). Rumah tersebut dibangun di atas lahan sekitar 90 meter persegi, dengan dua bangunan utama yang sama-sama mengusung konsep menyerupai kendaraan bus. Bangunan pertama dibuat menyerupai bus double decker dengan ukuran lebar 4 meter, tinggi 5 meter, dan panjang sekitar 13 meter. Sementara itu, bangunan kedua memiliki ukuran lebih kecil, menyerupai bus mini dengan dimensi yang lebih standar. Rumah bentuk bus di Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. “Kalau yang bus kecil itu sengaja saya buat ukurannya lebih kecil supaya masih ada ruang untuk garasi di bagian depan. Jadi tidak saya maksimalkan sampai ke depan, karena garasi juga penting untuk rumah,” ucapnya. Supardi juga menyebut, pembangunan rumah unik tersebut sejauh ini telah menghabiskan biaya sekitar Rp 125 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk kebutuhan material, serta upah enam orang tukang yang mengerjakan proyek selama kurang lebih enam minggu. Supardi, yang akrab disapa Bagong, juga mengatakan bahwa warna cat dan desain eksterior rumahnya akan dibuat menyerupai bus PO Agra Mas double decker. “Nanti juga ada tulisan Scania K410. Tulisan di kaca depan nanti juga akan dibuat seperti bus pada umumnya,” ucapnya. Rumah berbentuk bus Agra Mas di Jatipurno Wonogiri. Untuk memperkuat kesan menyerupai bus asli, tidak hanya tampilan luar yang diperhatikan, tetapi juga detail fisik lainnya. Bahkan, pada bagian roda, ia menggunakan ban asli, meski yang dipakai merupakan ban truk. Tidak hanya itu, pada fasad rumah tersebut juga disematkan berbagai tulisan layaknya identitas pada bus asli, lengkap dengan kode dan penanda yang memiliki arti khusus bagi pemiliknya. “Tulisan ‘BG’ di depan itu ada maknanya. BG adalah panggilan saya di sini, bisa Bagong atau BG. Angka 02 itu menunjukkan RT 02, lalu BG 07 itu RW 07. Jadi semua ada arti. Termasuk pelat nomor B 490 MG, itu juga bisa dibaca Bagong, semacam nomor seri saja.” Meski begitu, saat ini rumah berbentuk bus tersebut belum sepenuhnya rampung. Supardi mengaku dana yang dimilikinya sudah habis, sementara progres pembangunan baru mencapai sekitar 50–60 persen. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang