Memasuki 2026, pergerakan harga mobil hybrid bekas di pasar nasional menunjukkan pola yang tidak seragam. Di satu sisi, tingginya permintaan mobil bekas mendorong harga beberapa model hybrid tetap terjaga, bahkan naik tipis. Namun di sisi lain, tidak semua hybrid bernasib sama, karena faktor model, harga, dan preferensi konsumen masih sangat menentukan daya serap pasar. Thung Andi Supriyadi, pemilik showroom Rendani Mobil, menilai harga mobil hybrid bekas saat ini cenderung mengalami kenaikan, terutama karena permintaan mobil bekas yang masih tinggi. Ia menyebut kondisi pasar masih cukup kondusif bagi penjual. “Menurut saya untuk saat ini kemungkinan naik, karena banyak permintaan mobil bekas. Tahun lalu saya jual Yaris Cross Hybrid 2023 di harga Rp 320 juta, sekarang bisa di kisaran Rp 330 jutaan,” ujar Andi kepada Kompas.com, Minggu (25/1/2026). Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berlaku untuk semua model hybrid. Adhe, tenaga penjual OLXmobbi, menjelaskan bahwa secara suplai, mobil hybrid bekas masih didominasi model-model tertentu, sehingga pergerakan harganya tidak merata. Toyota Yaris Hybrid “Kalau mobil hybrid secara supply itu memang tipe-tipe tertentu. Contohnya C-HR Hybrid, ada unit di Buaran itu sudah hampir tiga bulan masih nongkrong, belum laku. Artinya secara pasarnya memang masih kurang oke,” kata Adhe. Menurut Adhe, meski harga beberapa unit sudah tergolong “sell-in” atau menarik, minat konsumen belum tentu mengikuti. Sebaliknya, model seperti Corolla Cross Hybrid dan Yaris Cross Hybrid masih tergolong cepat terjual karena lebih sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mayoritas pembeli. “Kalau harganya sudah di atas Rp 300 juta, untuk hybrid banyak konsumen malah lebih tertarik ke unit non-hybrid lain. Jadi bisa dibilang harganya cenderung stagnan, kecuali memang ada faktor khusus dari konsumen yang benar-benar mengincar model tersebut,” ujarnya. Pandangan serupa juga disampaikan Agus, pemilik showroom Focusmotor. Ia menilai pasar mobil hybrid bekas mulai tersegmentasi dengan jelas antara model yang populer dan yang kurang diminati. “Hybrid bekas itu sekarang sudah kelihatan mana yang dicari dan mana yang sekadar lewat. Model yang reputasinya kuat dan irit masih aman harganya, tapi yang kurang familiar atau harganya terlalu dekat dengan mobil baru, pergerakannya cenderung datar,” kata Agus. Dengan kondisi tersebut, harga mobil hybrid bekas di 2026 belum bisa digeneralisasi naik atau turun secara keseluruhan. Untuk model populer dengan efisiensi dan nama besar, harga masih relatif kuat. Namun bagi model yang pasarnya lebih sempit, tren stagnan bahkan potensi turun tetap terbuka, tergantung selera dan daya beli konsumen. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang