Suzuki Fronx punya Advanced Driver Assistance System(ADAS) bernama Suzuki Safety Support, yang berfungsi bukan untuk “menggantikan” pengemudi, tapi memperkuat kewaspadaan lewat peringatan dan bantuan intervensi yang halus. Suzuki sendiri menekankan setiap fitur dibuat untuk memberi perlindungan aktif tanpa mengganggu rasa berkendara yang natural. Saya mendapat kesempatan merasakan Suzuki Safety Support pada Suzuki Fronx tipe tertinggi yakni Fronx SGX, transmisi matik. Suzuki Safety Support Pada Fronx SGX sudah terdapat Adaptive Cruise Control (ACC), Lane Keep Assist (LKA), Lane Departure Warning (LDW), Lane Departure Prevention (LDP), Vehicle Swaying Warning (VSW), Dual Sensor Brake Support II (DSBS II), Blind Spot Monitor (BSM), Rear Cross Traffic Alert (RCTA), Around View Monitor 360°, Parking Sensor, High Beam Assist dan Head-up Display. Fitur Suzuki Fronx SGX Saya mencoba Suzuki Fronx untuk memahami sejauh mana Suzuki Safety Support benar-benar bekerja di kondisi berkendara nyata. Pengujian bukan di lintasan steril, melainkan di skenario yang sangat familiar buat kita para pengendara, yakni lalu lintas perkotaan, jalan cepat, hingga parkiran sempit, di situlah situasi yang sehari-hari dihadapi pengemudi Indonesia. Pendekatannya menarik. Suzuki tidak menjual fitur ini sebagai teknologi yang “mengambil alih”, melainkan membantu pengemudi tetap waspada. Justru di situ letak uji sesungguhnya, apakah fitur-fitur ini terasa relevan, atau sekadar ada di daftar spesifikasi? Suzuki Fronx SGX Saat Beban Berkendara Mulai Berkurang Di ruas jalan cepat seperti jalan tol, saya mengaktifkan Adaptive Cruise Control (ACC). Pada titik ini, Fronx mulai menunjukkan karakternya. Kecepatan dijaga konsisten, jarak dengan kendaraan di depan dipertahankan otomatis. Saat mobil di depan melambat, Fronx ikut mengurangi kecepatan tanpa hentakan berlebihan. Sistem ini tidak agresif. Transisinya halus dan cukup untuk membuat kaki kanan bisa beristirahat, tanpa menimbulkan rasa cemas. Dalam perjalanan yang relatif panjang, ini jelas membantu mengurangi kelelahan. Ketika ACC aktif, Lane Keep Assist (LKA) ikut bekerja. Setir terasa “hidup”, tetapi tidak melawan. Koreksi kecil muncul saat mobil mendekati marka, menjaga Fronx tetap di tengah lajur. Bukan sensasi otonom penuh, melainkan seperti ada tangan kedua yang membantu menjaga arah. Suzuki Fronx SGX Ketika Fokus Sedikit Lengah Di jalan yang lebih lengang, saya sengaja membiarkan mobil sedikit mendekati garis marka tanpa menyalakan lampu sein. Lane Departure Warning (LDW) langsung memberi peringatan visual dan suara. Responsnya cepat, namun tidak mengejutkan. Menariknya, saat saya terlambat mengoreksi, Lane Departure Prevention (LDP) ikut campur dengan koreksi kemudi ringan. Tidak kasar, tidak memaksa tapi cukup untuk mengingatkan bahwa mobil mulai keluar jalur. Filosofinya adalah membantu, bukan mendikte. Fitur lain yang cukup relevan adalah Vehicle Swaying Warning (VSW). Dalam sesi berkendara yang cukup panjang, sistem mendeteksi pola gerak yang mulai tidak stabil dan memberi peringatan agar pengemudi beristirahat. Ini bukan fitur yang sering “terlihat”, tetapi justru penting untuk perjalanan jarak jauh. Suzuki Fronx SGX AT GIIAS 2025 Lalu Lintas Kota: Antisipasi yang Bekerja Senyap Masuk ke lalu lintas perkotaan yang padat, Dual Sensor Brake Support II (DSBS II) menjadi pengaman senyap. Dalam satu momen ketika kendaraan di depan mengerem mendadak, sistem memberi peringatan lebih dulu. Saya masih sempat mengerem sendiri, namun jelas sistem ini memberi tambahan waktu reaksi sebagai faktor krusial di kemacetan kota. Saat berpindah jalur, Blind Spot Monitor (BSM) beberapa kali menyala, memberi informasi adanya kendaraan di titik buta. Indikatornya mudah terbaca dan tidak mengganggu pandangan. Keputusan berpindah jalur pun terasa lebih percaya diri. Parkir dan Manuver Sempit Di area parkir, Around View Monitor 360° langsung terasa manfaatnya. Tampilan sekeliling mobil memudahkan membaca jarak dengan objek di sekitar, terutama saat parkir di ruang terbatas. Sensor parkir belakang melengkapi dengan peringatan jarak yang akurat, kombinasi yang membuat manuver jadi lebih tenang. Saat mundur keluar dari parkiran dengan pandangan terbatas, Rear Cross Traffic Alert (RCTA) memberi peringatan adanya kendaraan melintas dari samping belakang. Fitur ini terasa sangat relevan di parkiran mal atau area publik yang padat. Test drive Suzuki Fronx Visibilitas dan Fokus Pengemudi Berkendara malam hari, High Beam Assist (HBA) bekerja otomatis mengatur lampu jauh dan dekat. Visibilitas terjaga tanpa perlu repot mengatur lampu secara manual, sekaligus tetap menghormati pengguna jalan lain. Up Display (HUD) membantu saya tetap fokus ke depan. Informasi penting tampil di bidang pandang, mengurangi kebiasaan melirik panel instrumen. Sebuah hal kecil, tapi berdampak pada konsentrasi. Catatan Akhir Setelah menguji Suzuki Safety Support di berbagai kondisi, kesimpulan saya cukup jelas. Sistem ini dirancang untuk terasa, bukan untuk dipamerkan. Intervensinya halus, peringatannya relevan, dan yang terpenting adalah pengemudi tetap memegang kendali penuh. Di Suzuki Fronx, Suzuki Safety Support bukan sekadar daftar fitur ADAS, melainkan partner berkendara yang bekerja diam-diam di balik layar. Tidak membuat pengemudi bergantung, tetapi membantu menjaga kewaspadaan. Itu menjadi pendekatan yang terasa tepat untuk karakter jalan dan pengemudi Indonesia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang