Kondisi ekonomi saat ini turut berdampak pada daya beli masyarakat di sektor otomotif. Hal tersebut terlihat dari makin sepinya aktivitas perdagangan di pusat suku cadang kendaraan, salah satunya di Mal Atrium Senen, Jakarta Pusat. Berdasarkan pantauan Kompas.com, Senin (28/9/2026), area pasar suku cadang yang berada di lantai 5 mal tersebut tampak lengang. Sejumlah toko terlihat tanpa pengunjung dan sepi dari pembeli. Sementara di lantai 6 atau area rooftop, hanya ada beberapa unit mobil yang sedang dalam proses pengerjaan, mulai dari pemasangan aksesori hingga penggantian komponen. Pasar Sparepart Mal Atrium Senen Pengunjung Makin Lengang Para pemilik toko mengakui bahwa penurunan jumlah pembeli tahun ini terasa semakin berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak pedagang yang akhirnya hanya duduk menunggu tanpa ada konsumen yang datang bertanya. Pemilik Toko "74" yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pelemahan pasar saat ini sangat terasa. Menurutnya, prioritas masyarakat kini bergeser ke kebutuhan pokok. “Aduh, lemah, semua enggak ada. Lemah pasarnya. Orang zaman sekarang lebih pikirin makan. Kecuali mobil sudah sampai mogok, baru beli sparepart. Makanya bisa sepi. Lihat saja, sudah berapa tahun ya sepi, tapi tahun ini lebih parah lagi. Pas Covid (padahal) agak lumayan,” ujarnya kepada Kompas.com, Senin (28/9/2026). Pasar Sparepart Mal Atrium Senen Hal senada disampaikan oleh Egy, pegawai toko sparepart Jaya Abadi. Ia merasakan adanya penurunan interaksi langsung dengan calon pembeli setelah masa pandemi berlalu. Bahkan, dalam beberapa hari berturut-turut, tokonya sempat sama sekali tidak kedatangan calon konsumen. “Mau dibilang sepi tapi ada saja, sebut ramai juga susah. Patokannya kan orang tanya. Saya ada hari Rabu dan Kamis kemarin enggak ada sama sekali yang tanya-tanya,” kata Egy. Kondisi sepi merata ini juga dirasakan oleh Alan, Pemilik Toko Sparepart Sentral Motor. Ia menyayangkan situasi pasar yang lesu di tengah tingginya biaya operasional toko di dalam mal. “Keadaan ya lihat saja situasinya. Sama saja semua orang mengalami. Lihat semuanya sama, enggak ada tamu. Padahal bayarnya mahal di mal,” kata Alan. Dilema Jualan Online Di tengah sepinya toko fisik, beberapa pedagang mencoba bertahan dengan memanfaatkan platform jualan online. Lalulintas kurir ekspedisi yang mengambil paket di lokasi menjadi bukti bahwa aktivitas digital tetap berjalan. Kendati demikian, berjualan secara daring rupanya tidak lepas dari kendala baru. Pemilik Toko ‘74’ mengeluhkan besarnya potongan biaya dari aplikasi jualan online serta maraknya aksi kecurangan dari oknum pembeli nakal. Tak jarang barang yang dikembalikan pembeli justru ditukar dengan komponen yang sudah rusak. Pasar Sparepart Mal Atrium Senen Sementara itu, Egy memilih tidak terlalu agresif di pasar daring karena persaingan harga yang dinilai sudah tidak sehat. Ia harus bersaing dengan penjual yang menawarkan barang rekondisi atau servisan dengan harga sangat murah. “Online tadinya iya, cuma kalah saing. Sekarang tahu sendiri beda Rp 5.000 saja pada enggak jadi. Kita kan modal packaging, modal besar. Di online juga ada saja yang nakal, ada yang pakai barang-barang rebuild-an servisan, yang sudah rusak diperbaiki. Paling kirim biasa, enggak sesering dulu,” jelas Egy.