Memperbaiki bodi mobil di bengkel resmi kerap menguras kantong karena tarif per panel yang relatif tinggi. Sebagai alternatif, sentra cat duco pinggir jalan di Kramat Raya menjadi opsi populer bagi pemilik kendaraan harian. Besaran biaya perbaikan di kawasan Jalan Kramat II ini tergolong fleksibel, tergantung pada tingkat kerusakan bodi kendaraan. Rahmat (65), montir senior di kawasan tersebut, menjelaskan bahwa tarif paling terjangkau dipatok untuk perbaikan baret ringan. Tarif Per Panel dan Baret Ringan "Kalau baretnya cuma sedikit di satu titik dan kita lagi ada stok bahan yang pas, Rp 150.000 sampai Rp 200.000 juga bisa disikat," ujar Rahmat saat ditemui Kompas.com di lokasi, Rabu (7/10/2026). Pedagang Cat Duco di Kramat sedang mencari pelanggan Rahmat mengungkapkan, bahwa patokan harga terjangkau untuk baret ringan tersebut sejatinya hanya menghitung biaya jasa dan tenaga. "Itu hitungannya jasa dan capek saja," kata Rahmat. Sementara itu, untuk perbaikan standar per panel yang tergores, tarif rata-rata yang ditawarkan berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 350.000. Namun, untuk pengerjaan panel mobil umum secara menyeluruh, tarifnya berkisar di angka Rp 600.000 hingga Rp 800.000 per panel. Perbedaan tarif panel tersebut sangat bergantung pada dimensi bodi mobil serta tingkat keparahan benturan yang dialami kendaraan. Perbaikan Bemper dan Pengecatan Total Jika terdapat kerusakan pada bagian bemper plastik yang penyok dalam, montir Kramat melayani perbaikan menggunakan bahan fiberglass. "Kemarin ada pengerjaan bemper depan penyok, itu dikasih harga Rp 450.000," tutur Rahmat. Ia menjelaskan bahwa proses pembentukan ulang dan penambalan fiber memerlukan ketelitian ekstra sebelum akhirnya disemprot cat dasar. "Karena kan harus dibentuk lagi, ditambal lagi pakai fiber baru disemprot cat," ucap Rahmat. Adapun untuk pengecatan dan pengerjaan dempul total seluruh bodi kendaraan, para montir mematok harga mulai dari Rp 4.000.000. Harga perbaikan total tersebut masih dapat bergerak fleksibel tergantung pada kelas kendaraan dan tingkat kesulitan restorasi bodi. Sistem tawar-menawar secara langsung di lapangan inilah yang membuat kawasan Kramat Raya terus diminati pemilik kendaraan di Jakarta.