Mencari mobil bekas dengan dana di bawah Rp 100 juta kerap dihadapkan pada dilema klasik, yakni mengejar gengsi dengan merek tertentu atau mengutamakan fungsi untuk kebutuhan harian. Di tengah banyaknya pilihan di pasar, keputusan ini menjadi krusial, terutama bagi pembeli mobil pertama yang belum memiliki pengalaman dalam perawatan kendaraan. Menurut Gazoel Amin, pemilik jasa inspeksi bantu Cek, calon pembeli sebaiknya tidak terpancing hanya dari tampilan atau merek, apalagi jika kendaraan tersebut sudah berusia cukup tua. “Kalau bujetnya terbatas, sebaiknya jangan memaksakan diri ambil mobil Eropa lawas hanya karena ingin terlihat lebih prestisius. Perawatannya tidak sederhana, spare part juga tidak selalu mudah ditemukan,” kata Gazoel kepada Kompas.com, Selasa (7/4/2026). Ia menjelaskan, selain ketersediaan suku cadang, faktor bengkel juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua bengkel umum memiliki kemampuan menangani mobil-mobil tertentu, terutama yang sudah berumur dan memiliki teknologi berbeda dibanding mobil Jepang pada umumnya. Menurut dia, kondisi tersebut bisa membuat biaya kepemilikan membengkak, meski harga beli awal terlihat murah. Bahkan, tidak jarang pemilik harus mengandalkan suku cadang bekas atau copotan yang kualitasnya tidak selalu terjamin. Sebagai alternatif, Gazoel menyarankan pembeli untuk lebih realistis dengan memilih mobil yang sudah umum di pasar Indonesia. Avanza generasi pertama banyak diburu masyarakat Model-model seperti LCGC atau LMPV lawas merek Jepang dinilai lebih ramah untuk penggunaan harian karena didukung jaringan bengkel luas serta ketersediaan suku cadang yang melimpah. Pilihannya bisa Toyota Agya, Daihatsu Ayla atau Suzuki Karimun Wagon R. Sedangkan pada kelas LMPV bisa Avanza, Ertiga atau Xenia. Suzuki Karimun Wagon R Special Edition “Kalau untuk mobil pertama, utamakan yang mudah dirawat dan bisa dipakai tanpa banyak drama. Soal gengsi bisa dikesampingkan dulu,” ujarnya. Ia juga mengingatkan, memilih mobil tua, terutama yang masuk kategori motuba, perlu kesiapan lebih, baik dari sisi biaya maupun mental. Pasalnya, tidak semua komponen bisa direstorasi ke kondisi sempurna, dan selalu ada potensi penurunan performa seiring usia pakai. Menurut Gazoel, mobil-mobil yang benar-benar dalam kondisi prima biasanya sudah masuk kategori koleksi dan dibanderol dengan harga jauh di atas rata-rata pasar. Karena itu, ia menyarankan calon pembeli untuk menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan utama. Jika mobil digunakan sebagai alat transportasi harian, maka faktor kepraktisan, efisiensi, dan kemudahan perawatan seharusnya menjadi prioritas utama dibanding sekadar tampilan atau citra merek. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang