Kendaraan roda tiga, seperti bajaj modern dan becak listrik, berpeluang mengisi segmen baru di industri otomotif Indonesia. Di tengah dominasi sepeda motor, moda ini dinilai dapat menjadi alternatif transportasi penumpang sekaligus angkutan barang untuk wilayah perkotaan hingga perdesaan. Pengamat transportasi sekaligus Akademisi Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan, kendaraan roda tiga memiliki potensi untuk mendukung konektivitas masyarakat, terutama di kawasan yang belum terjangkau transportasi umum massal. Kendaraan roda tiga dari DRMA, PowerAce “Di tengah dominasi kendaraan roda dua, keberadaan moda ini menghadirkan dinamika tersendiri yang mencakup aspek keselamatan, efisiensi operasional, hingga tata ruang urban dan konektivitas antarwilayah,” kata Djoko, kepada Kompas.com (8/10/2026). Menurut dia, kendaraan ini dapat dimanfaatkan sebagai angkutan pengumpan atau first-mile/last-mile, termasuk untuk menghubungkan permukiman dengan stasiun MRT, LRT, KRL, maupun halte bus. Sebelum layanan berbasis aplikasi berkembang, bajaj sebenarnya telah beroperasi di sejumlah daerah di luar Jakarta. Kini, layanan bajaj daring juga mulai menjangkau berbagai kota, seperti Makassar, Medan, Yogyakarta, Surakarta, hingga Semarang. Seorang operator melakukan lengisian bahan bakar gas pada kendaraan roda tiga di di SPBG Pondok Ungu, Bekasi, Kamis (19/12/2024). Alternatif Motor dan Pikap Kecil Djoko menjelaskan, kendaraan roda tiga memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan sepeda motor. Kabin beratap dapat melindungi penumpang dari panas dan hujan. Sementara kapasitas angkut yang lebih besar membuatnya cocok untuk membawa barang maupun melayani penumpang yang membutuhkan akses lebih mudah. Untuk kebutuhan logistik, kendaraan roda tiga berkapasitas angkut 300 kilogram hingga satu ton berpotensi menjadi alternatif pikap kecil. Kendaraan ini juga dapat dimodifikasi menjadi lapak usaha berjalan atau boks pendingin. Konsep bajaj listrik, Mahindra Treo, di Delhi Auto Expo, Rabu (7/2/2018). Di wilayah perdesaan dan kepulauan kecil, kendaraan roda tiga bisa membantu mobilitas masyarakat ketika pembangunan transportasi umum massal belum memungkinkan. Kendati demikian, pengembangannya perlu memperhatikan risiko kendaraan terguling ketika menikung pada kecepatan tinggi. Dimensi yang lebih lebar dibandingkan sepeda motor juga berpotensi menambah kepadatan jalan jika jumlah armada tidak dikendalikan. Booth TVS di ajang Regional Investment Forum (RIF) 2017 di Nusa Dua Convention Center, Bali. Butuh Regulasi dan Dukungan Industri Menurut Djoko, pengembangan kendaraan roda tiga membutuhkan regulasi kelaikan jalan yang jelas, termasuk pengujian tipe, serta pengaturan kuota dan wilayah operasional. Integrasi dengan aplikasi pemesanan, pembayaran nontunai, dan transportasi umum juga diperlukan agar layanan lebih mudah diakses masyarakat. Kendaraan listrik dapat menjadi pilihan untuk menekan emisi dan kebisingan, meski harga pengadaan serta ketersediaan suku cadang masih menjadi tantangan. Antrean mengular truk dan kendaraan roda tiga pengangkut sampah saat TPA Putri Cempo Solo kebakaran, Kamis (3/92/2026) “Pengembangan kendaraan roda tiga menyimpan potensi besar untuk mengisi ruang kosong layanan transportasi perkotaan, perdesaan maupun kawasan kepulauan,” ucap Djoko. Pemerintah daerah perlu mengatur keseimbangan antara jumlah armada dan kebutuhan penumpang agar operasional tetap tertib dan pengemudi memperoleh penghasilan berkelanjutan. Dengan dukungan regulasi, infrastruktur, dan industri manufaktur, kendaraan roda tiga berpeluang berkembang menjadi segmen tersendiri di pasar otomotif nasional sekaligus memperluas pilihan transportasi masyarakat.