Wuling Binguo S GULIR UNTUK LANJUT BACA Kunci keberhasilannya ada pada harga. Xingyuan dipasarkan mulai 68.800 yuan hingga 98.800 yuan, atau sekitar Rp150 juta sampai Rp216 jutaan. Dengan banderol di bawah 100.000 yuan, mobil ini menyasar konsumen pemula dan keluarga muda yang ingin beralih ke kendaraan listrik tanpa harus merogoh kocek dalam.Di posisi kedua ada Wuling Hongguang Mini EV. Mobil listrik murngil yang sudah lama dikenal sebagai “people’s EV” di China ini mencatatkan penjualan 427.000 unit, naik 55 persen secara tahunan. Harganya juga berada di bawah 100.000 yuan atau setara Rp219 juta, membuatnya tetap kompetitif di tengah perang harga yang kian agresif.Sementara itu, Tesla Model Y harus turun ke posisi ketiga dengan penjualan 382.300 unit, atau merosot hampir 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan terjadi meski Tesla menawarkan beragam skema pembayaran untuk mendongkrak volume. Model Y sendiri bermain di rentang harga 260.000–310.000 yuan atau setara Rp569 juta hingga Rp678 jutaan, jauh di atas segmen EV murah.BYD Seagull pun mengalami tekanan. Setelah sempat menjadi salah satu model terlaris pada 2024, penjualannya turun 31 persen menjadi 307.000 unit pada 2025. Padahal, harga Seagull relatif terjangkau, yakni 69.800–85.800 yuan atau sekitar Rp153 juta hingga Rp188 jutaan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Fenomena ini memperlihatkan bahwa pasar EV China semakin sensitif terhadap harga. Di tengah tekanan deflasi, otoritas setempat bahkan mengimbau produsen untuk tidak hanya mengandalkan diskon besar-besaran. Pabrikan didorong menghadirkan model yang ditingkatkan dengan harga lebih rendah serta menawarkan skema subsidi dan cicilan panjang hingga tujuh tahun.Dominasi Geely dan Wuling menjadi bukti bahwa di pasar otomotif listrik terbesar dunia, strategi harga terjangkau masih menjadi faktor penentu kemenangan.