Fenomena Veda Ega Pratama datang seperti kilatan yang sulit diabaikan. Di usia yang masih sangat muda, namanya tiba-tiba menjadi bahan percakapan paddock Asia hingga Eropa. Bahkan media Spanyol dan Italia yang biasanya kritis juga ikut memberikan komplimen. Veda melaju cepat, agresif, dan memiliki naluri balap yang tidak diajarkan di kelas mana pun. Bagi banyak penggemar motorsport Indonesia, bahkan bagi publik yang tidak terlalu mengikuti balap motor, Veda telah dianggap sebagai simbol baru Merah Putih di lintasan internasional. Namun setiap fenomena di lintasan jarang lahir dari ruang hampa. Di balik satu rider yang tiba-tiba bersinar, biasanya ada ekosistem panjang yang bekerja jauh sebelum lampu start padam. Ada jalur pembinaan, ada orang-orang yang menyusun strategi, dan ada filosofi yang dibangun perlahan tanpa banyak sorotan. Fenomena Veda, dengan segala sorak sorai yang mengiringinya hari ini, pada akhirnya mengarah pada satu cerita yang lebih sunyi, tentang bagaimana sistem pembinaan pembalap Indonesia dibangun dari belakang layar. Cerita itu membawa kita pada satu nama: Anggono Iriawan. DeepEnd mengenalnya sejak akhir 2000-an. Kami tahu persis tentang quiet philosophy yang dijalaninya dan bagaimana pendekatan itu perlahan berbuah hasil. Anggono bekerja jauh lebih banyak di balik layar dibanding berdiri di podium. Ia bukan pembalap, bukan pula pemilik tim. Namun jejaknya terasa dalam hampir setiap langkah pembinaan pembalap muda Tanah Air. Selama bertahun-tahun, Anggono menjadi figur penting di balik strategi motorsport PT Astra Honda Motor dalam membangun jalur karier pembalap Indonesia hingga ke level dunia. Bagi Anggono, motorsport bukan sekadar tentang kecepatan motor atau kemenangan balapan. Membangun dunia balap, baginya, seperti membuka sebuah sekolah dari nol. Dibutuhkan strategi jenjang kompetisi, kurikulum yang jelas, serta kesabaran panjang. Anggono mendasari pendekatan tersebut pada tiga nilai utama: patience (kesabaran), resilience (keuletan), dan persistence (ketekunan). Salah satu wujud nyata filosofi itu adalah ketika ia ikut mengawal pendirian Honda Racing School (HRS) pada 2010 oleh PT Astra Honda Motor. Program ini sering dianggap sebagai sekolah balap resmi Honda di Indonesia. Awalnya berlangsung di Sentul International Karting Circuit, lalu berkembang ke Speed City Garuda Wisnu Kencana di Bali. HRS dirancang untuk menemukan dan membina pembalap muda berusia sekitar di bawah 15 tahun agar memiliki jalur menuju balap nasional hingga internasional. Konsepnya sederhana tetapi sistematis. Peserta belajar teknik dasar balap seperti racing line, braking, dan cornering. Namun mereka juga mendapatkan pembinaan fisik, mental, serta kemampuan komunikasi dengan mekanik dan tim. Program ini bahkan terhubung dengan Suzuka Racing School di Jepang, yang menjadi salah satu jalur lanjutan bagi pembalap berbakat dari Indonesia. Seiring waktu, HRS berkembang dan kemudian dikenal sebagai Astra Honda Racing School (AHRS). Program ini masih berjalan hingga sekarang dan telah menghasilkan banyak pembalap, di antaranya Mario Suryo Aji, Andi Farid Izdihar (Andi Gilang), dan Gerry Salim. Ratusan pembalap muda telah melewati program ini dan sebagian di antaranya melanjutkan karier di berbagai kejuaraan Asia hingga dunia. Anggono pernah menekankan satu prinsip penting dalam pembinaan tersebut, “Mereka tidak hanya balapan, tapi juga sekolahnya tetap jalan. Jadi, mereka tetap ada kewajiban untuk sekolah.” Bagi Anggono, pembalap tidak cukup hanya cepat. Filosofinya sederhana namun mendalam. Pembalap harus matang secara mental, pendidikan, dan komunikasi. Di paddock Grand Prix, bahasa yang digunakan bukan hanya throttle dan racing line. Pembalap harus mampu berdiskusi teknis dengan mekanik dari berbagai negara. Karena itu Pak Ang, sebagaimana ia biasa dipanggil, bahkan membiasakan para pembalap muda menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian mereka agar mampu menjelaskan feeling motor secara jujur kepada kru teknis. Menurutnya, kemampuan komunikasi sering kali sama pentingnya dengan kemampuan mengerem di tikungan terakhir. Dari sistem pembinaan seperti itulah muncul generasi pembalap baru. Salah satu yang kini paling mencuri perhatian adalah Veda Ega Pratama, pembalap muda asal Gunungkidul yang menembus panggung internasional setelah bersinar di Asia Talent Cup, lalu tampil di Red Bull MotoGP Rookies Cup, hingga akhirnya melangkah menuju panggung dunia Moto3. Perjalanannya bukan kebetulan, Veda merupakan bagian dari jalur pembinaan yang telah dirancang sejak lama oleh Honda Indonesia. Motivasi di balik sistem ini sebenarnya lebih besar dari sekadar mencetak juara. Ada misi untuk menghadirkan pembalap Indonesia sebagai pemain nyata di dunia Grand Prix. Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar terbesar MotoGP di dunia. Namun negara dengan jutaan penggemar ini jarang memiliki pembalap yang benar-benar tampil di level tertinggi. Melalui sistem pembinaan yang terstruktur, dari sekolah balap, kompetisi Asia, hingga kejuaraan Eropa, Anggono dan timnya mencoba memecahkan paradoks tersebut. Di balik semua strategi itu, sebenarnya ada keyakinan sederhana yang selalu dipegangnya. Indonesia memiliki talenta balap yang besar, hanya saja membutuhkan sistem yang tepat untuk berkembang. Program pembinaan Honda menjadi jembatan yang menghubungkan bakat dari lintasan kecil di berbagai daerah dengan sirkuit-sirkuit besar dunia. Hingga pada 1 Juli 2019, Anggono bahkan melangkah lebih jauh dengan penugasan ke Jepang bersama Honda Racing Corporation (HRC). Perannya memang tidak diumumkan secara rinci kepada publik, namun berkaitan dengan pengembangan program pembalap serta koordinasi motorsport Honda di tingkat global. Tabloid MOTOR Plus sempat menulis bahwa setelah meninggalkan jabatannya di Astra Honda Motor, “Anggono Iriawan sementara ini sedang melakukan training di Honda Racing Corporation (HRC) Jepang.” Bagi banyak pengamat, penugasan ini dipahami sebagai bagian dari proses transfer knowledge antara Honda Jepang dan jaringan Honda di berbagai negara. Pengalaman Anggono dalam mengelola program seperti Astra Honda Racing Team dan Astra Honda Racing School menjadi referensi penting dalam pengembangan strategi motorsport Honda. Kini ketika nama Veda mulai disebut di paddock internasional dan bendera Merah Putih kembali muncul di layar siaran balap dunia, banyak orang melihatnya sebagai kisah sukses seorang pembalap muda. Namun di balik perjalanan itu, ada kerja panjang yang jarang terlihat publik. Sebuah sistem yang dibangun perlahan, konsisten, dan penuh keyakinan. Sistem yang, dalam banyak hal, dibangun oleh sosok yang lebih nyaman bekerja dalam senyap. Terima kasih, Pak Anggono. Image Credit: Instagram Anggono Iriawan & Facebook Veda Ega Pratama