Keberhasilan menembus rantai pasok manufaktur otomotif skala nasional tidak diraih secara instan. Didera berbagai kendala operasional, komplain pelanggan, hingga masalah efisiensi biaya menjadi makanan sehari-hari yang harus dilewati oleh Mad Ali Haris saat merintis PT Arkha Industries Indonesia. Perusahaan spesialis injection manufacturing dan pengecatan (painting) plastik serta logam ini pertama kali berdiri pada 14 Agustus 2014. Saat awal beroperasi, PT Arkha Industries memanfaatkan lahan seluas 3.000 meter persegi dengan modal awal 60 orang karyawan. Berbagai komponen mobil yang dibuat dari industri binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra Didera Komplain dan Sulit Bersaing Pada masa-masa awal berdirinya usaha, Ali mengaku dihadapkan pada rentetan masalah teknis maupun manajemen. Ketiadaan sistem yang baku membuat perusahaannya sering menerima keluhan terkait kualitas produk serta keterlambatan pengiriman. "Yang paling utama adalah sisi finansial dan efisiensi cost. Karena tidak efisien, kita tidak bisa bersaing dengan yang lain," ujar Mad Ali Haris dalam sesi konferensi pers di GIIAS 2026, Selasa (4/8/2026). Kondisi tersebut membuat kinerja keuangan perusahaan naik-turun dengan kisaran omzet yang sangat terbatas, yakni di kisaran Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Yayasan Dharma Bhakti Astra mendukung Industri Kecil dan Menengah Digembleng "Jiwa Petarung" dan Manajemen Modern Titik balik perjalanan bisnis PT Arkha Industries terjadi pada tahun 2022 ketika Ali memutuskan menerima tawaran untuk menjadi UMKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Di bawah naungan YDBA, pembenahan dilakukan secara menyeluruh dari aspek paling mendasar. "Di Yayasan, kita diberi pelatihan basic mentality supaya punya jiwa petarung dan siap bersaing. Lalu diajarkan manajemen mutu untuk menjaga kualitas tanpa komplain, serta tentang penataan stok dengan sistem FIFO (First In First Out) dan cover stock," ungkap Ali. Selain itu, pelatihan efisiensi biaya membuat harga produk PT Arkha Industries menjadi jauh lebih kompetitif di pasar manufaktur. Kedisiplinan tinggi dalam menerapkan standar Quality, Cost, and Delivery (QCD) berhasil menekan angka cacat produksi. Merekah dari 3.000 M2 Menjadi 17.000 M2 Berkat konsistensi pembenahan internal tersebut, kepuasan pelanggan meningkat drastis hingga persentase kualitas produk menyentuh angka 80 persen lebih. PT Arkha Industries akhirnya berhasil menjadi pemasok Tier 1 bagi PT Astra Komponen Indonesia (ASKI). Dampak dari transformasi ini terlihat jelas pada lonjakan skala bisnis PT Arkha Industries: Luas Lahan Pabrik: Berkembang pesat dari 3.000 meter persegi menjadi 17.000 meter persegi. Penyerapan Tenaga Kerja: Melonjak dari awal 6 orang (dan 60 pekerja fase awal) menjadi 310 karyawan. Pertumbuhan Omzet: Dari skala mikro di bawah Rp 2 miliar naik kelas menjadi Usaha Menengah dengan angka omzet mencapai Rp 34,96 miliar pada 2025. "Kalau sudah bisa masuk ke jaringan Astra, kepercayaan pasar lain akan ikut naik. Kuncinya adalah bagaimana manajemen internal dijaga agar produk selalu bermutu," pungkas Ali.