JAKARTA, KOMPAS.com – Memperbaiki power window mobil tidak selalu cukup dengan mengganti komponen yang rusak. Dalam praktiknya, penanganan sistem penggerak kaca jendela ini bisa berbeda meskipun kendaraan memiliki tipe dan gejala kerusakan yang sama.

Hal tersebut diungkapkan Agus Yayan (54), atau yang akrab disapa Jafra, pemilik sekaligus mekanik bengkel spesialis Mulya Glass Power Window di Jakarta.

Menurut Jafra, sistem power window memiliki karakteristik tersendiri pada setiap kendaraan. Karena itu, pengalaman teknisi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan langkah perbaikan yang tepat.

"Mobil sama, kerusakan sama, pengerjaan belum tentu sama di dalamannya, makanya power window enggak bisa kita serahkan ke teori saja, itu harus real di lapangan," ujar Jafra saat ditemui di bengkelnya, Senin (2/11/2026).

Kerusakan power window sendiri bisa melibatkan sejumlah komponen, mulai dari mekanisme regulator, tali seling, dudukan kaca, motor penggerak, hingga rangkaian kelistrikan.

Meski gejalanya serupa, seperti kaca sulit naik atau turun, penyebab masalah belum tentu sama. Pemeriksaan langsung diperlukan untuk memastikan komponen yang mengalami gangguan.

Kondisi tersebut juga membuat teknisi tidak selalu bisa menentukan metode perbaikan hanya berdasarkan keluhan pemilik kendaraan.

Biaya Servis Ditentukan Setelah Pemeriksaan

Jafra menjelaskan, perbedaan kondisi komponen juga berpengaruh terhadap biaya perbaikan. Karena itu, ia memilih tidak langsung memberikan harga pasti sebelum kendaraan diperiksa.

"Kebanyakan orang ngotot minta harga di awal, padahal enggak bisa saya tentuin karena sifatnya situasional, mending jangan dulu bicara harga sebelum dibongkar dan dicek," ucap Jafra.

Di bengkelnya, pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui sumber kerusakan sekaligus menentukan komponen yang perlu diperbaiki atau diganti.

Setelah masalah ditemukan, teknisi akan menjelaskan kondisi kendaraan dan menyampaikan estimasi biaya kepada pemilik mobil.

Menariknya, Jafra menerapkan kebijakan pemeriksaan tanpa biaya, termasuk ketika konsumen memutuskan untuk tidak melanjutkan perbaikan.

"Mau seharian dibongkar, kalau konsumen ternyata enggak jadi deal harganya, ya sudah, tinggal dipasang lagi seperti semula, enggak ada biaya sepeser pun, yang penting konsumen tenang dan ada kejelasan," ucap Jafra.

Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan kesempatan kepada konsumen untuk mengetahui kondisi kendaraan terlebih dahulu sebelum memutuskan melakukan perbaikan.

Dengan demikian, pemilik mobil tidak perlu langsung menyetujui penggantian komponen hanya berdasarkan dugaan awal kerusakan.