Pada generasi terbaru ini, Lexus melakukan lompatan paling dramatis sepanjang sejarah perjalanan ES. Lexus menghadirkan dua pilihan penggerak elektrifikasi sekaligus dalam satu lini produk, yaitu Battery Electric Vehicle (BEV) pada varian ES 350e dan Hybrid Electric Vehicle (HEV) pada varian ES 350h. Jika sebelumnya rekan kami telah mencicipi impresi perdananya di Amerika Serikat saat peluncuran global, kali ini giliran saya yang mengujinya langsung di medan lalu lintas padat dan jalan tol dinamis di seputaran Jakarta. Impresi Lexus ES 350e Ilustrasi Pengemudi Lexus ES350 2026 Pengujian pertama dimulai menggunakan varian listrik murni, Lexus ES 350e, melintasi rute kombinasi jalan raya sampai tol, dari Mampang menuju kawasan BSD. Begitu memegang lingkar kemudi, rasa penasaran utama tertuju pada ciri khas Lexus mengenai karakter sasis baru yang diklaim lebih rigid dan dinamis. Saat melibas sambungan beton dan permukaan jalan tol Indonesia yang bergelombang, suspensi ES 350e terbukti sanggup memberikan redaman mumpuni. Ayunan suspensinya tidak terasa kaku atau keras, namun juga jauh dari kesan limbung. Karakter pengendaliannya mudah diprediksi dan memberikan rasa percaya diri ekstra saat dipacu pada kecepatan tinggi. Satu hal unik yang langsung terasa saat mengatur ergonomi berkendara adalah posisi duduknya. Sedan Hibrida Lexus ES350h Meskipun jok pengemudi sudah disetel pada posisi paling rendah, impresi duduknya tetap terasa sedikit tinggi ala sedan crossover untuk ukuran sedan eksekutif. Menariknya, karakter posisi duduk ini justru menjadi salah satu alasan kuat konsumen meminang Lexus ES 350. Kepraktisan posisi duduk yang tidak terlalu rendah ini memberikan kemudahan akses keluar-masuk kendaraan (ingress/egress) yang jauh lebih nyaman dan ramah bagi pengemudi maupun penumpang. Aspek kekedapan kabin juga menjadi keunggulan mutlak sedan listrik ini. Ilustrasi Penumpang di Baris Kedua Lexus ES350 2026 Suara embusan angin serta gesekan ban berukuran 21 inci di atas permukaan jalan beton dapat terperedam apik. Kekedapan kabin ES 350e terolah dengan natural sehingga tidak menimbulkan efek kedap berlebihan yang kerap membuat penumpang merasa mual. Bagi pengemudi yang menginginkan sensasi berkendara lebih ekspresif, opsi mode berkendara dapat dipindah ke mode Sport. Pada mode ini, penyaluran tenaga instan menjadi jauh lebih responsif yang diiringi sentuhan efek suara ala pesawat ruang angkasa di dalam kabin saat pedal gas diinjak mendalam, memberikan pengalaman berkendara yang lebih dinamis. Sedan listrik pertama Lexus ini dibekali motor listrik berdaya 165 kW (setara 221 tk) dan torsi instan 268,6 Nm. Performa tersebut dipadu dengan baterai lithium-ion berkapasitas 74,7 kWh. Di atas kertas, Lexus ES 350e sanggup melesat dari 0-100 km/jam dalam 8,0 detik dengan jarak tempuh mencapai kisaran 480 hingga 510 kilometer dalam sekali pengisian daya penuh (standar WLTP). Angka ini lebih dari cukup untuk mengakomodasi mobilitas harian pengusaha di perkotaan tanpa diterpa kekhawatiran kehabisan daya. Pengisian daya cepat 150 kW juga diklaim hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari 10 hingga 80 persen. Impresi Varian Hybrid Berpindah ke area pusat kota di kawasan Sudirman-Thamrin, pengujian dilanjutkan menggunakan varian Lexus ES 350h. Varian hibrida ini menjadi tulang punggung penjualan di Indonesia dengan menyumbang porsi pemesanan hingga sekitar 60 persen. Di tengah kemacetan perkotaan yang padat, mesin A25A-FXS 2.5L 4-silinder berdaya 186 hp dan torsi 235 Nm yang dipadu dengan motor listrik generasi terbaru, menghasilkan output tenaga total hibrida hingga 244 hp bekerja secara sangat halus. Berbeda dengan varian listrik murni yang menggunakan pelek 21 inci, ES 350h dibekali pelek berukuran 19 inci dengan profil ban yang lebih tebal. Hasilnya, saat melintasi jalanan perkotaan Jakarta yang permukaannya variatif, ayunan suspensi varian hibrida terasa sedikit lebih fleksibel dan lembut. Kabin ES 350h juga memperkenalkan pendekatan desain interior baru berupa fitur Responsive Hidden Switch. Dalam kondisi tidak aktif, panel kontrol AC dan beberapa fitur tampil tersembunyi menyatu mulus dengan trim dasbor berbalut kulit sintetis. Begitu tangan mendekat, tombol-tombol kontrol berteknologi LED tersebut akan otomatis menyala. Uniknya, meski terbungkus rapi di balik lapisan kulit sintetis, tombol- tombol ini tetap memberikan tactile feedback saat ditekan, sehingga sensasi pengoperasiannya terasa tetap presisi layaknya menekan tombol fisik konvensional. Lexus ES350e dan ES350h 2026 Baris Kedua: Murni "Duduk Manis" Puas di balik kemudi, saatnya beralih ke baris kedua yang menjadi nilai jual utama sedan berukuran medium ini. Di area ini, Lexus ES 350 tetap mempertahankan standar kenyamanan tinggi. Ruang kaki terasa lapang dipadu nuansa interior berwarna cokelat yang memberikan suasana hangat. Posisi rebah jok juga dirancang pas untuk bersantai, khususnya untuk saya yang memiliki tinggi badan 172 cm. Menariknya, di generasi terbaru ini Lexus menanggalkan panel kontrol audio dan tombol pengaturan jok di armrest belakang, menyisakan wireless charger serta dua cup holder. Keberadaan tombol shoulder switch di samping sandaran jok penumpang depan generasi terdahulu yang memudahkan penumpang belakang memajukan kursi depan secara mandiri demi legroom ekstra kini juga dieliminasi. Kendati terdapat beberapa fitur fisik yang kini absen, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi overall experience kenyamanan dan kemewahan duduk sebagai penumpang belakang Lexus ES 350. Langkah ini justru mempertegas filosofi baru Lexus ES: penumpang di baris kedua difokuskan untuk murni "duduk manis" menikmati keheningan kabin dan perjalanan tanpa perlu terdistraksi oleh banyaknya tombol pengoperasian.