Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menaruh perhatian khusus pada lintasan penyeberangan seiring potensi lonjakan arus balik pasca Lebaran Ketupat pada hari ini, Sabtu (28/3/2026). titik seperti Pelabuhan Bakauheni dan Ketapang diperkirakan akan mengalami peningkatan signifikan volume kendaraan dan penumpang. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Kementerian Perhubungan, Ernita Titis Dewi, mengatakan kondisi ini perlu diantisipasi sejak awal, terutama oleh masyarakat yang akan kembali ke kota asal. Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi “Lintasan penyeberangan seperti Bakauheni dan Ketapang diperkirakan akan mengalami peningkatan volume kendaraan dan penumpang secara signifikan apabila tidak diimbangi dengan pengaturan waktu perjalanan yang baik oleh masyarakat,” kata Titis dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026). Secara umum, puncak arus balik Lebaran diprediksi terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret 2026. Tradisi Lebaran Ketupat dinilai turut mendorong pergerakan lanjutan masyarakat dalam waktu berdekatan, menjelang berakhirnya masa libur pada Senin (30/3/2026) mendatang. Selain lintasan penyeberangan, Kemenhub juga mewaspadai potensi kepadatan di ruas jalan utama sebab periode akhir pekan, khususnya Sabtu dan Minggu, berpotensi menjadi titik konsentrasi arus balik. “Pergerakan masyarakat cenderung terkumpul dalam waktu yang relatif singkat. Ini yang perlu diantisipasi karena berpotensi menimbulkan kepadatan di ruas jalan utama, baik tol maupun arteri, serta pada simpul transportasi,” ujarnya. Untuk mengantisipasi lonjakan di Pelabuhan Ketapang, Kemenhub menyiapkan sejumlah langkah, antara lain optimalisasi buffer zone dan delaying system guna mengurai antrean kendaraan. Buffer zone kendaraan roda empat dan bus dialokasikan di Grand Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. Sementara itu, kendaraan barang diarahkan ke buffer zone Sri Tanjung serta kantong parkir milik PT Pusri dan Pelindo. Suasana kepadatan di Pelabuhan Merak kendaraan tengah antre untuk masuk ke dalam kapal pada H-2 atau Kamis (19/3/2026). Dari sisi operasional, jumlah kapal juga akan ditingkatkan sesuai kondisi. Dalam situasi normal terdapat 28 kapal yang beroperasi, meningkat menjadi 30 kapal saat kondisi padat, dan hingga 32 kapal pada kondisi sangat padat. Kemenhub bersama Kepolisian, pemerintah daerah, serta operator transportasi juga telah menyiapkan berbagai skenario pengendalian. Langkah tersebut mencakup pengaturan lalu lintas berbasis kondisi lapangan, optimalisasi kapasitas angkutan penyeberangan, hingga penguatan layanan operasional di pelabuhan dan jalur distribusi utama. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan secara bersamaan pada waktu puncak. Mengatur jadwal keberangkatan, menjaga kondisi fisik, serta memastikan kendaraan dalam kondisi laik jalan menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran arus balik,” kata dia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang