Pasar mobil listrik (electric vehicle/EV) baru di Indonesia semakin variatif dengan hadirnya pilihan di kisaran harga Rp 300 jutaan hingga Rp 400 jutaan. Namun, meluncurnya mobil listrik baru bernilai murah ini turut memberikan imbas koreksi pada banderol mobil listrik bekas di pasaran. Pun, siklus hidup alias life cycle model mobil listrik yang relatif singkat seolah mendukung kondisi ini. Memasuki September 2026, sejumlah model mobil listrik bekas terpantau mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan bagi konsumen, apakah momen ini menjadi waktu yang tepat untuk berburu EV seken. Ilustrasi mobil listrik bekas Chery Omoda E5 Diskon dan Persaingan Mobil Listrik Baru Agus, Kepala Bursa Mobil Bekas Mangga Dua Square, menjelaskan bahwa penurunan harga kendaraan listrik bekas pada 2026 ini tak lepas dari maraknya program diskon untuk unit baru. “Mobil bekas di 2026 ini yang harganya drop kebanyakan mobil-mobil listrik karena banyak diskon. Tapi tetap laku,” kata Agus kepada Kompas.com, Minggu (27/9/2026). Meski harganya tertekan, Agus menyebut penyerapan unit EV bekas di wilayah Jakarta tergolong sangat cepat. “Lakunya laku banget, cepat kalau di Jakarta. Mungkin di daerah lain, di luar Jakarta saya kurang tahu, karena belum banyak tempat cas di tempat umum,” ujar Agus. Kekhawatiran Pedagang Fenomena ini rupanya menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pedagang mobil bekas. Reynando, Pemilik Diler Auto Cars di Pasar Mobil Kemayoran, mengungkapkan bahwa depresiasi harga baru yang agresif membuat pedagang ekstra berhati-hati saat menentukan harga beli (taking price). “EV tuh kadang kita masih khawatir, kita dihantam sama harga barunya. Hari ini kita beli, dengan patokan harga baru,” kata Reynando. Ia mencontohkan penetapan harga Hyundai Ioniq 5. Jika harga baru dipatok sekitar Rp 500 jutaan, pedagang membeli unit bekas di angka Rp 380 juta sampai Rp 390 juta agar bisa kembali menjualnya di kisaran Rp 400 jutaan. Namun, skenario tersebut berisiko terganggu jika unit baru tiba-tiba diguyur diskon besar. Hyundai Ioniq 5 vs BYD Sealion 7 “Tiba-tiba yang baru didiskon, khawatir di situnya. Apalagi mobil-mobil China, itu gila-gilaan. Keluar baru malah lebih murah terus,” lanjutnya. Menurut Reynando, kondisi ini terbilang unik dan belum pernah terjadi saat pasar didominasi oleh pabrikan asal Jepang atau Eropa. “Itu kan sebenarnya tidak terjadi di pasar sebelumnya, di mana saat dikuasai mobil-mobil Jepang, Eropa, enggak ada kejadian mobil lebih baru tapi lebih murah. Tapi giliran sekarang mobil China masuk, dia keluarin yang baru, teknologi lebih maju, harga lebih murah,” jelas Reynando. Mobil Wuling Air EV milik Chairissahar Mobil Listrik Bekas yang Harganya Drop Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah platform jual beli kendaraan bekas per September 2026, penurunan harga melanda beberapa model EV populer: Chery Omoda E5 (2024): Jika pada akhir 2025 lalu masih dipasarkan di rentang Rp 288 jutaan hingga Rp 315 jutaan, kini harganya sudah terkoreksi ke kisaran Rp 250 jutaan sampai Rp 300 jutaan. Hyundai Ioniq 5: Model produksi 2023 yang sebelumnya bertahan di rentang Rp 425 jutaan hingga Rp 475 jutaan, kini ditawarkan mulai dari Rp 350 jutaan hingga Rp 400 jutaan. BYD Seal (2024): Pada akhir 2025 sempat bertahan di kisaran Rp 465 jutaan hingga Rp 489 jutaan, kini harganya merosot ke rentang Rp 399 jutaan sampai Rp 470 jutaan.