Ban menjadi salah satu komponen krusial pada sepeda motor trail atau off-road. Tak sekadar penunjang tampilan, pemilihan ban yang tepat sangat menentukan performa, kenyamanan, hingga keselamatan pengendara. Meski terkesan sama saja, yaitu "kotak-kotak" ban motor trail ternyata memiliki beragam jenis dengan fungsi yang berbeda-beda, mulai dari kebutuhan harian hingga kompetisi. Dodiyanto, Brand Manager PT Gajah Tunggal Tbk, produsen ban IRC, menjelaskan bahwa ban on-off merupakan tipe yang paling umum digunakan untuk pemakaian sehari-hari. Honda CRF150L Namun, ban jenis ini memiliki keterbatasan ketika digunakan di medan ekstrem atau balap. “Ban on-off, enggak bisa dipakai kompetisi kan, seperti atau di medan yang berat. Karena enggak ada buangan tanah kan. Buangan tanah itu kan di antara blok-blok gitu. Kalau blok-blok yang makin tengah, itu kelempar tanah, buang-buang tanah,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026). Menurut Dodi, panggilannya, meski tidak ditujukan untuk kompetisi, ban on-off sudah cukup ideal bagi pengguna motor trail harian yang kerap melintasi jalan aspal dan tanah ringan. “Nah, kalau untuk dipakai harian, sebenarnya on-off cukup. Selama bukan medan yang benar-benar ekstrem,” ujarnya. Ban tipe on-off ini mudahnya ialah ban yang langsung diberikan pabrikan saat membeli motor trail road legal seperti Hond CRF150L dan Kawasaki KLX150. Gaya menikung di motocross Selain ban on-off, terdapat pula jenis ban yang masih cocok untuk penggunaan harian, tetapi memiliki jarak antarblok yang lebih renggang. Karakter ini membuat traksi di medan tanah menjadi lebih baik dibandingkan ban standar. “Ada juga yang untuk harian, tapi jaraknya lebih jarang-jarang. Dia kayak ban motocross juga kan, tapi bukan motocross banget," ujar Dodi. Sementara itu, untuk kebutuhan balap atau kompetisi, pilihan ban menjadi jauh lebih kompleks. Dodimenyebut bahwa dalam dunia motocross, ban dibedakan berdasarkan tingkat kekerasan dan kondisi lintasan. “Nah, kalau di motocross sendiri, kompetisi ada lagi. Ada medium, hard, sama soft. Terus ada lagi untuk ban basah, ban kering. Banyak banget tipenya kalau di kompetisi,” ujar Dodi. Kejuaraan motocross bergengsi Trial Game Dirt 2024 makin mendekati puncaknya alias putaran final tahun ini. Perbedaan ini bukan tanpa alasan. Setiap kondisi lintasan menuntut karakter ban yang berbeda agar performa motor tetap optimal saat balapan. “Kenapa di kompetisi ada beberapa komponen itu, karena lintasannya pada saat race bisa saja basah atau kering. Nah, itu disesuaikan. Begitu kering pun dilihat treknya, apakah tanah bebatuan, tanah merah, atau tanah lumpur. Beda-beda lagi,” ujar Dodi. Di level profesional, pemilihan ban bahkan dilakukan secara sangat detail, menyesuaikan kondisi trek secara spesifik. Namun, hal tersebut tidak selalu bisa diterapkan oleh semua tim. “Kalau di kelas-kelas profesional banget, yang tim-timnya punya banyak dana, itu disesuaikan. Tapi kalau tim-tim biasa, sikats aja, biasanya ambil yang medium. Basah, kering, sikat, biasanya di medium," katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang